Sabtu, 26 September 2015

Mau Naik Gaji dan Tunjangan -lagi- Dong hehe

Halo selamat malam. Kali ini gue mau review masalah isu yang lagi lumayan hangat atau ternyata panas nih? Soalnya isu ini lagi ketutup sama musibah yang lagi menimpa saudara muslim kita di Makkah, jadi kayanya ga banyak orang yang terlalu ngurusin gitu. Bukan berarti musibah yang lagi menimpa saudara kita di Makkah pengalihan isu loh ya, Cuma emang lagi timing yang di takdirin Allah begini. Sebenernya sih menurut gue, ini salah satu cara Allah buat nunjukkin apa yang bakal gue review. So, gue mau review tentang “Anggota DPR minta kenaikan gaji dan tunjangan”


Disini gue ga nulis ulang tentang isi berita tsb, karena di internet pun banyak berita tsb. Tinggal kalian search dengan keyword yang gue cetak miring, pasti bakal keluar banyak berita yang bersangkutan. Karena gue mau langsung ngulas apa yang udah banyak diomongin orang dan mahasiswa lain juga.


Jadi gini ya, kalo gue mikirnya gini, di Negara maju yang ada di luar NegRI pun gaji anggota dewannya ga sebesar anggota dewan yang ada di Negara kita. Ini gue kutip dari salah satu media online yg di publish tahun 2013 lalu. Disitu ditulis kalo gaji anggota dewan di Indonesia 16 kali lipat di banding pendapatan perkapita penduduknya. Sedangkan Negara maju kaya Amerika Serikat, Inggris, Jepang hanya 3 kali lipat dari pendapatan perkapitanya. Bayangin, rentang kali lipat antara Negara Indonesia yang baru Negara berkembang dengan Negara maju kaya gitu sampe 5 kali lipatnya loh. Dan sekarang anggota dewan kita minta naik gaji dan tunjangan. Pak, Bu anggota dewan yang terhormat, mbok ya kalian lihat kami yang masih di bawah garis kemiskinan to’. Yang makannya masih belum tentu nemu nasi tiap harinya. Jangankan naik mobil mewah, pakai baju bermerk layaknya yang kalian pakai. Kita bisa ketemu nasi setiap hari meski tanpa lauk aja kita udah bersyukur Pak, Bu. Lo ini kalian bisa dengan entengnya minta naik gaji dan tunjangan. Enak tenan to idupmu itu. Kau fikir itu duit bapa moyang kau yang dia wariskan pada kalian begitu saja?


Gini ya, ga masalah sih kalau anggota dewan minta naik gaji dan tunjangan kalau kinerja mereka udah layak-banget-banget-banget untuk dapat bintang 5 (karena rating tertinggi untuk sebuah kepuasan cenderung hanya sampai 5 aja) tapi gaji mereka hanya sebatas UMR dan tunjangan yang cuma 10% dari gaji yang mereka dapetin. Itu bisa jadi bahan pertimbangan untuk mereka bisa naik gaji dan tunjanagan menilik pengabdian mereka sama Negara yang begitu besar. Atau, sekalipun kinerja mereka belum tentu begitu baik banget, tapi mereka udah berusaha untuk bisa jadi yang terbaik, tapi gaji dan tunjangan mereka ga begitu besar, itu juga bisa jadi bahan pertimbangan. Nah ini, gaji dan tunjangan udah yang ampun-ampunan banget besarnya, tapi kinerja mereka masih yang, mau ngasih bintang 1 aja kadang ragu banget. Tau dong arti dari bintang satu di tambah rasa ragu buat ngasihnya? Pasti tau dan ngerti lah ya. Dan APBN kita abis cuma buat menuhin nafsu materi angoota dewan kita yang terhormat. Kembali ke niat mereka deh ya, mereka bener-bener mau ngabdi ke Negara apa mau cari duit dengan gampang? Ga usah deh segala bilang gini “Kalian gatau gimana pusingya kami mikirin Negara ini. Coba kalian rasakan dulu jadi kami, baru kalian bisa ngomong gitu” (kata-kata ini pernah di ucapkan oleh salah satu anggota dewan kita di salah satu acara di Tv swasta yang ada di Indonesia). Kalau emang niat mereka untuk ngebangun Negara ini buat jadi lebih baik lagi, mereka ga perlu bilang gitu ke kami. Karena seharusnya mereka melakuakn itu dengan rasa Ikhlas dan rasa cinta mereka kepada Negara. Bukan dengan rasa pamrih dan mau di balas degan materi. Kalau kaya gitu caranya, mereka sama aja nguras duit Negara yang seharusnya bisa di pake buat hal yang lebih berguna kaya pembangunan infrastruktur, ngebantu mereka yang masih di bawah garis kemiskinan. Sekolah gratis sampe tingkat universitas kaya Negara di luar sana. Oke, gue akuin kalo di beberapa daerah hal itu udah di lakuin, tapi apa semua daerah ngerasain? Apa semua lapisan masyarakat yang ada di Negara ini udah ngerasain nikmat yang itu? Belum kan? Perbandingannya masih banyak mereka yang belum ngerasain kenikmatan yang kaya gitu dibanding yang udah ngerasain. Inget hey, Negara kita udah merdeka dari 70 tahun yang lalu. Kita udah bebas dari penjajahan Belanda sama Jepang. Tapi apa, masyarakat daerah tetangga kitapun masih ada yang mati karena kelaparan. Masih adanya kasus gizi buruk di Negara tercinta ita ini. Masih adanya orang yang mati kelaparan karena dia terlalu jujur untuk ga berani korupsi sekalipun itu cuma 1 rupiah. Tapi kalian, anggota dewanKU yang terhormat, dengan mudahnya meminta naik gaji dan tunjangan. Apa? Mau ngasih alesan a-z? 1- tak terhingga? Atau semua simbol yang ada di muka bumi ini? Kalau kalian bisa ngasih kami begitu banyak alasan, coba sekarang kalian rasain gimana rasanya makan dengan makanan basi atau makanan ga layak makan. Pakai pakaian yang ga layak pakai juga. Kalau kalian bisa mengumpamakn bagaimana rasanya jadi kalian, kenapa kami tidak? Kamipun punya hak untuk itu. Dan kalian tidak memiliki hak untuk melarang kami. Gaji dan tunjangan mereka itu sudah amat cukup besar dan –mungkin- ada nominal tunjangan yang ga masuk akal. Pernah salah satu anggota dewan maparin untuk apa aja gaji yang mereka terima, salah satunya untuk membayar setiap anggota bawahannya untuk memperlancar urusan mereka, istilah halusnya “salam tempel” mungkin ya. Tapi kalau mereka bisa tegas, harusnya mereka bisalah ngatasin bawahan kaya gitu (lengkapnya itu gaji buat apa aja, kalian bisa lihat siaran ulang Mata Najwa On Stage edisi  13 Maret 2015). Dan coba bandingin sama veteran kita yang sekarang hidupnya gatau harus bergantung sama siapa kalau bukan sama diri mereka sendiri, jangankan tunjangan ini itu yang membuat hidup mereka nayaman, temapat bernaungpun mereka usaha sendiri untuk punya. Makanpun mereka harus kerja keras dulu. Padahal, kalau bukan karena mereka, kita mungkin ga bisa hidup enak kaya sekarang. Hidup nyaman tanpa harus dibayangin rasa takut dibunuh sama penjajah. Sekolah sampe jenjang perguruan tinggi bahkan sampe ka luar negeri. Tapi pernah para veteran itu tiba-tiba demo buat minta tunjangan ini itu ke pemerintah? Engga kan? Mereka udah cukup bahagia lihat Merah Putih berdiri dengan gagahnya di langit. Coba hal ini yang ada di hati anggota dewan Negara ini. Pastilah Negara ini udah maju.


Sekarang gini. Perbaiki kinerja kalian dengan amat sangat sempurna dan ga ada kesalahan sekecil apapun (bukan dengan sebaik yang kalian bisa atau kalian mampu, karena kalian udah terlalu lama bersembunyi di balik kata “kami sudah berusaha sekuat dan semampu kami.” Dan lagi, sekalipun kata “sempurna” itu hanya milik Allah, tapi gue yakin, Allah akan selalu meminjamkan kata sempurnanya untuk mereka yang benar-benar berniat baik), baru kalian bisa dengan lantangnya meminta kenaikan gaji dan tunjangan. Disitupun kalian bisa membeberkan apa apa saja yang sudah kalian lakukan untuk memajukan Negara ini. Tapi, jika kalian masih belum bisa memberikan kesempurnaan untuk kami, berkacalah!! Disitu kalian akan melihat bagaimana menyeramkannya kalian layaknya Monster kanibal jahat yang dengan mudahnya meminta ini itu tanpa memikirkan keberlangsungan kehidupan orang yanga ada di sekitar kalian.


Gue rasa cukup segitu aja hal yang bisa gue tuangin. Karena mungkin, kalau gue lanjutin bakal jadi panjang dan khawatir ada kata yang ga ngenakin dan ujungnya, you know what I mean so well lah.


See you next post guys^^~

Minggu, 20 September 2015

Kok Semudah itu Ya?

Halo selamat malam. Apa kabar kalian? Semoga Allah selalu ngasih kesehatan dan rahmat yang berlimpah ya. Amin.


Jadi sore ini aku sama bapa aku nonton berita kaya biasa di salah satu stasiun Tv  swasta. Di situ di beritakan tentang wisuda abal-abal. Itu kejadiannya di Universitas Terbuka yang ada di Tangerang Selatan. Kenapa aku ga sensor? Karena ya percuma, toh ketua Yayasannya aja waktu di wawancarai di liatin kok sama stasiun Tvnya alias ga disensor baik muka ataupun namanya, plus nama Universitasnya juga yang jadi tempat wisuda. Nah jadi di Universitas itu buat wisuda tuh yang gampang banget, Cuma bayar sekitar ±15 jutaan gitu lah. Dengan jangka waktu kuliah yang cuma 18 bulan atau 1,5 tahun gitu. Enak banget ya, bayar murah jangka waktu singkat kaya gitu udah bisa dapetin ijazah Pergururan Tinggi. Nah alibi dari pihak Yayasannya, mereka ngakunya kuliah selama 3 tahun tapi kuliah online. Tapi nyatanya pas ditanya ke “mahasiswa/i”nya mereka cuma nunggu selama 1,5 tahun kaya yang udah aku tulis dan gada perkuliahan sama sekali selama waktu itu. Lagi pernyataan berbeda dateng dari ketua Yayasannya. Dia bilang meski mereka udah di wisuda, tapi mereka belum nerima ijazah dan harus pengabdian masyarakat selama ±12 atau 18 bulan gitu deh, tadi dia ngomongnya kurang jelas pas bagian yang itu. Pas dia bilang gitu, dijawab la sama Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik kalo itu ga sesuai sama standar yang udah DIKTI buat. Dan peserta wisudanyapun waktu ditanya dari kampus mana, mereka ga tau dari kampus mana. Lagi, waktu di wawancara tentang IPK dan mata kuliah yang disuka, mereka ga bisa jawab dan malah jawab ga tau. Setelah didesek sama Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik, akhirnya ketua Yayasannya mau ngaku la kalo mereka emang ilegal.


Nah itu seputar berita yang sore ini aku tonton. Aku mau review tentang hal itu. Jadi gini ya, kalo emang mau dapetin ijazah perguruan tinggi ya usaha la. Ga seenaknya bayar, nunggu terus dapet gitu aja ijazahnya tanpa tau proses kita susahnya gimana. Aku mahasiswa loh, ngerasain gimana susahnya buat dapetin nilai A apalagi buat dapein ijazah kelulusan yang emang prosesnya ga gampang. Kita harus ngerjain tugas  siang malem. Harus rela begadang buat nyelesain tugas yang dikasih dosen. Belum lagi kalo tugas itu tugas lapangan atau analisis mengenai hal yang berhubungan sama pemerintahan (karena aku prodi adm negara yang kalo dapet tugas ga jauh-jauh dari instansi negara hubungnannya) yang kita harus butuh data. Dan buat dapetin data itu ga mudah loh. Kita harus rela bulak-balik instansi yang bersangkutan karena alesan disposisi la, orang yang bersangkutan lagi ga da la, data yang dibutuhin belum lengkap la, atau apala apala alesan lainnya. Kita harus rela sabar sama hal-hal gituan. Itu prodi aku yang kesulitannya kaya gitu. Prodi lain? Ya kesulitannya pasti beda lagi. Yang intinya, buat kuliah dan dapetin nilai yang bagus yang nantinya berhubungan sama ijazah kita tuh ga gampang. We must have struggling for it all. Belum lagi kalo kita udah masuk semester atas yang harus berhubungan dengan penelitian atau anything else like that la. Kita harus rela ngorbanin materi, waku, dsb la buat dapetin data yang seakurat mungkin dengan hal yang kita teliti. Mesti siap diomelin dosen waktu ada hal yang kuang padahal otak kita udah buntu banget. Belum lagi pas nyusun skripsi, kita harus siap ngerasain skripsi kita di coret-coret dosen karena masih ada yang kurang, sidang untuk tiap bab tertentu. Dan untuk nyusun skripsipun kita harus rela begadang sampe malem pas otak lagi lancar jaya buat nuangin kata-kata atau yang rela frustasi kalo otak kita lagi yang mampet banget kaya lagi kena flu. Dan itu semua prosesnya ga gampang dan panjang loh. Ga sesingkat watu 18 bulan kaya mereka yang wisudnya abal-abal.


Mereka yang jadi wisudawan wisudawati abal-abal, enak banget. Bayar murah, tunggu sampe waktu yang ditentuin, udah deh wisudaan. Tanpa tahu prosesnya gimana. Kalo emang mau dapetin ijazah Perguruan Tinggi, ya usaha dong. Jangan main enaknya kaya gitu aja. Buat sukses itu ga gampang dan singkat mas, mba. Butuh ada yang di korbanin. Ga segampang kamu balikin telapak tangan kamu gitu aja. Rasain proses yang kami lakuin juga mas mba biar fair. Mau bilang ga punya biaya? Itu uang 15jutaan darimana asalnya kalo emang ga punya biaya. Lagi, kalo emang ga punya biaya, pemerintah kan udah ngasih beberapa beasiswa buat mereka yang emang mau lanjutin pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Masalah dapet apa engganya, ya kalian harus rela bersaing dong buat dapetinnya. Harus bener-bener struggle buat dapetin hal itu. Toh Universitas swastapun banyak yang nyiapin beasiswa buat mereka yang ga mampu secara materi tapi mampu secara otak. Ga sedikit kalo kalian mau tau dan berusaha. Tolong lah kalian di luar sana yang punya ijazah palsu ngertiin atau bahkan pahamin perjuangan kami buat dapetin selembar kertas yang berharga banget kaya gitu. Jangan ngambil jalan seenaknya aja kaya gitu. Kalian ga tau kalo hal yang kalian lakuin itu pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia, di akhirat nanti kalian juga di tanya loh. Kalian ga takut? Apa kalian juga ga malu secara moral if someday there someone who ask you about your certificate? Kalo akusih malu. Ada beban moral yang disandang juga kalo kalian tahu. Jadi intinya, kenapa ga kalian coba hal yang lebih baik dulu tapi hasilnya memuaskan daripada hal yg instan tapi bawa petaka ujungnya. Jangan minta “dihargai” kalo kalian belum bisa “menghargai”


Sekian postingan aku kali ini. Terima kasih buat kalian yang sempetin bacapostingan aku^^ Have a great life guys^^~

Kamis, 10 September 2015

Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974)

PERISTIWA MALARI
(Malapetaka 15 Januari 1974)

Menurut Asvi Warman Adam, kontroversi sejarah indonesia disebabkan oleh 3 hal, 1) interpretasi yang tidak tepat; 2) fakta yang tidak lengkap; dan 3)fakta dan interpretasi yang tidak jelas. Begitu juga yang terjadi pada tragedi-tragedi sejarah yang terjadi pada masa orde baru, hampir semuanya merupakan kontroversi yang belum terpecahkan sepenuhnya hingga sekarang. Selain karena termasuk sejarah kontemporer sehingga bukti-bukti kejadian belum terungkap seluruhnya, meninggalnya tokoh kunci orde baru (Soeharto) juga menjadi penyebab kenapa tragedi pada masa orde baru banyak meninggalkan teka-teki. Salah satu kejadian yang cukup kontroversial pada orde baru adalah Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 atau yang lebih dikenal dengan Malari. Untuk kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal dengan “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 buah bangunan rusak berat. Sebanyak 160kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan. Peristiwa kekerasan ini hanya dapat dialami dan dirasakan (akibatnya). Tetapi tidak untuk diungkap secara tuntas. Berita di koran hanya menyingkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Pada 14 januari 1974 pukul 19.45, Presiden Soeharto  bersiap untuk menjemput tamunya, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka yang rencananya akan mengunjungi Jakarta selama empat hari (14-17 januari 1974). Jepang pada saat itu dianggap sebagai pemeras ekonomi Indonesia karena mengambil lebih dari 53% ekspor (71% diantaranya berupa minyak) dan memasok 29% impor Indonesia, selain itu investasi Jepang yang semakin bertambah dari waktu ke waktu di Jawa dianggap membunuh pengusaha-pengusaha kecil pribumi. Hal ini mendapat perhatian dari masyarakat khususnya kalangan mahasiswa. Betapa terkejutnya Soeharto saat mendapati laporan bahwa para mahasiswa telah bersiap menggerakkan demonstrasi dibeberapa tempat. Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Halim Perdanakusuma. Mencoba menerobos masuk untuk menemui PM Tanaka, para mahasiswa ini dihadang oleh aparat keamanan yang memang diperintahkan untuk mencegah para demonstran masuk ke pangkalan udara. Gagal melaksanakan rencananya, para mahasiswa kemudian keluar dan bergabung dengan rekan-rekan mereka yang melakukan pemblokiran jalan-jalan keluar lapangan udara Halim Perdana Kusuma.
Keesokan harinya, Selasa 15 Januari 1974, kekacauan makin memuncak. Ribuan mahasiswa yang dikomandoi Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI) berkumpul ditengah kota. Mereka berbaris di jalan-jalan sembari membagi-bagikan selebaran yang berisikan tuntutan mereka kepada pemerintah. Aktivitas mahasiswa terlihat meningkat dibeberapa kampus. Mereka kemudian berunjuk rasa dari kampus Universitas Indonesia dijalan Salemba menuju Universitas Trisakti di daerah Grogol, Jakarta. Demonstrasi akhirnya tidak terkontrol lagi dan pecah menjadi kerusuhan massa. Sore harinya, kelompok massa yang kebanyakan berasal dari golongan pemuda dan anak-anak perkampungan Jakarta turut turun ke jalan dan mulai melakukan aksi anarkis. Mereka menyerang semua yang berbau Jepang. Mobil-mobil buatan Jepang di bakar. Gedung-gedung yang ada hubungannya dengan Jepang, seperti bangunan milik Astra Motor, dihancurkan. Pabrik minuman asal luar negeri, Coca Cola, juga menemui nasib yang sama. Bahkan keesokan harinya, massa mulai merampok dan menjarah pusat pertokoan di Pasar Senen. Suasana Kota Jakarta menjadi mencekam dan diselubungi asap.
Diwaktu yang sama, Soemitro sedang mengikuti rapat Dewan Wanjakti bersama Jenderal M. Panggabean. Ditengah rapat, laksamana Soedomo, wakil Pangkopkamtib, memberikan pesan melalui surat kepada Soemitro bahwa sedang terjadi kekacauan di Jakarta. Namun Soemitro tidak langsung bertindak. Ia tetap mengikuti rapat sembari memantau perkembangan keadaan yang dikabarkan Soedomo kepadanya. Ketika kepanikan semakin nyata di wajah wakilnya, barulah Soemitro memutuskan untuk keluar dari ruangan rapat. Namun niatnya ini ditahan oleh Panggabean, setelah selesai rapat, Soemitro baru menemui Soedomo untuk berkoordinasi masalah keamanan. Jenderal Soemitro lalu meminta agar Soedomo menjaga keamanan Jakarta dan mencegah agar demonstran tidak melintasi Monas atau masuk ke Istana Negara, tempat Presiden Soeharto menerima PM Tanaka. Ia lalu memutuskan untuk turun ke jalan menuju jalan Thamrin tempat dimana kabarnya Kedutaan Besar Jepang diserbu oleh para demonstran. Lambatnya Jenderal Soemitro selaku Pangkopkamtib bereaksi ini menimbulkan pertanyaan di benak berbagai pihak. Kecurigaan pun mengarah kepadanya.
Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Jenderal Soemitro sempat menghadang massa di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Dia berusaha membelokkan gerakan massa yang mengarah ke Istana Presiden. Massa tak beranjak. Soemitro mengaku sudah menawarkan dialog antara Dewan Mahasiswa UI dan Tanaka. Tanaka sudah bersedia, tetapi DM-UI menjawab bahwa “dialog diganti dengan dialog jalanan”
Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08:00, PM Jepang tersebut berangkat dari Istana tidak dengan mobil, melainkan diantarkan oleh Presiden Soeharto dengan helikopter dari Gedung Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan bahwa suasana Kota Jakarta masih mencekam.
LATAR BELAKANG TERJADINYA MALARI
Dualisme (adanya dualisme yang terjadi dalam tubuh kekuasaan) Pada awal masa pemerintahan Orde Baru, Indonesia berada pada keadaan ekonomi yang sangat buruk. Zaman orde lama yang sangat fokus pada manifesto politiknya meninggalkan masalah ekonomi pada masa orde baru, akibatnya terjadi inflasi besar-besaran, hutang yang menumpuk dimana-mana dan banyak masalah lainnya. Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Presiden akhirnya membuat sebuah badan pembangunan nasional yang terdiri dari ekonom-ekonom anak buah Soemitro Djojohadikusumo. Tim yang disebut dengan ‘Mafia Berkeley’ karena hampir seluruh anggotanya merupakan lulusan University of California, Berkeley ini merupakan teknokrat yang menentukan seluruh kebijakan ekonomi dan anggaran negara pada masa itu. Tim ini terdiri dari dosen-dosen Universitas Indonesia yaitu, Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Ali Wardhana, J.B. Soemarlin, dan Dorodjatun Koentjoro-Jakti. Para teknokrat ini cukup berhasil dalam memulihkan keadaan ekonomi indonesia dengan kebijakan-kebijakan kapitalisnya namun cukup berimbas buruk pada ekonomi rakyat. Hal ini terjadi karena Indonesia berada pada keadaan dimana  ekonomi nasional  harus cepat dipulihkan. Kemudian para teknokrat itu pun membuat sebuah undang-undang mengenai penanaman modal asing dan melakukan kerja sama dengan IMF. Hal ini membuat hutang Indonesia meningkat drastis dalam waktu yang cepat.
Namun selain tim teknokrat Widjojo cs. Soeharto juga memiliki dua orang asisten pribadi yaitu Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani. Ali Moertopo adalah Kepala Operasi Husos (opsus) dan juga Aspri Presiden, hal ini membuatnya memiliki kekuasaan lebih untuk mengintervensi dan mengambil keputusan sendiri. Kekuasaan ini digunakan untuk menaklukan lawan-lawan politiknya atau siapapun yang menghalangi jalannya. Ali Moertopo dipercaya menjadi asisten pribadi Soeharto karena keberhasilannya melaksanakan tugas operasi khususnya meminimalisir jumlah partai sebagai partisipan pemilu dan menambah jumlah anggota partai Golkar. Hal ini diperintahkan oleh presiden dan dilakukan untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto dan rezim  orde baru. Kepercayaan ini dimanfaatkan oleh Ali Moertopo untuk menjalankan rencana-renacannya dalam mencapai kursi presiden.

BERBAGAI VERSI MENGENAI MALARI
Peristiwa Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Peristiwa Malari dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasionalisme ekonomi di indonesia. Serangan para mahasiswa terhadap modal asing beralih ke sasaran-sasaran dalam negeri, khususnya pebisnis Cina lokal yang menjadi mitra bagi investor Jepang beserta rekan-rekan politik mereka.
Versi lainnya berhubungan dengan perselisihan antara kelompok Ali Moertopo dengan kelompok teknokrat ekonomi. Ali Moertopo kecewa karena yang terpilih sebagai pelaksana dari konsep pembangunan adalah Widjojo Nitisastro dkk. Oleh Soeharto, kelompok Widjojo lebih dipercaya karena yang dianggapnya memiliki reputasi yang jelas dalam hal pembuatan kebijakan ekonomi. Jenderal Soemitro dalam hal ini bertindak melindungi kelompok teknokrat dengan alasan agar kelompok ekonomi tersebut dapat menyusun dan mengimplementasikan kebijakan ekonomi dengan baik. Karena ini, Soemitro menjadi sasaran tembak Ali Moertopo.
Dalam peristiwa Malari Jendral Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat disitu.
Tak terima dengan segala kabar yang memojokkannya, Soemitro lalu membela diri. Melalui dua bukunya, Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib dan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974, ia menceritakan kesaksiannya di seputar kejadian Malari. Hal ini mungkin dilakukannya untuk menandingi buku Peristiwa 15 Januari 1974 karangan Marzuki Arifin yang sangat memojokkannya. Mengenai Peristiwa Malari, Soemitro merasa yakin bahwa peristiwa ini merupakan salah satu akses yang ditimbulkan oleh ambisi Ali Moertopo yang ingin menggapai ambisinya menjadi presiden dengan cara dan melalui saluran Intelijen.
Belakangan ini barulah ada pernyataan dari Jendral Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi Peristiwa Malari. Sebaliknya, "dokumen Ramadi" mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, "ada seorang jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh". Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam "dokumen" itu tentu mengacu Jenderal Soemitro. Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo.
Soeharto mempermasalahkan dokumen Ramadi. Beberapa saat setelah jabatannya sebagai Pangkopkamtib dicopot akibat Peristiwa Malari, Soemitro yang waktu itu masih menjabat Wakil Panglima Angkatan Bersenjata (wapangab) dipanggil menghadap Soeharto. Dalam pertemuan itu, Soeharto mempermasalahkan Dokumen Ramadi.
Dikatakan dalam dokumen itu bahwa revolusi sosial akan meletus antara tanggal 4 April 1974 dan 6 Juni 1974. Soeharto pasti jatuh dan digantikan oleh jenderal "S". Isu-isu yang beredar di luar juga mengatakan bahwa Soemitro ingin menjadi presiden dengan mencari dukungan dari kampus-kampus. Itulah sebabnya sebagai Pangkopkamtib, Soemitro dinilai bertindak terlalu lunak pada mahasiswa. Latar belakang keluarganya yang berasal dari PNI juga ikut disebut-sebut. Karena desas-desus yang tak sedap ini, Soemitro lalu di minta oleh Soeharto untuk pergi ke luar negeri menjadi Duta Besar di Washington. Tapi tawaran Soeharto ditolak Soemitro. Ia merasa lebih terhormat jika ia mengundurkan diri. Jabatan Wapangab pun diserahkan kembali pada Sang Presiden. Dokumen Ramadi jelas telah mengakhiri karir Soemitro. Ironisnya, Soemitro mengaku tidak pernah mengenal Ramadi. "Dengar namanya pun... belum pernah!" Ucap Soemitro heran. Ia juga merasa belum pernah sekalipun melihat Dokumen Ramadi.
Ramadi adalah bekas kolonel bidang hukum militer yang lahir di Pontianak, 12 Maret 1912. Namanya menjadi terkenal karena ditemukannya sebuah dokumen yang mengatakan bahwa Soemitro bermaksud menggantikan Soeharto. Nama Ramadi tertulis di dalam dokumen itu. Beberapa saat setelah terjadi Peristiwa Malari, Ramadi ditangkap dan dimasukkan kepenjara. Berdasarkan laporan, Ramadi diketahui saat itu sedang menjabat sebagai Komisaris PT Ravitek. Ia juga merupakan salah satu anggota MPR dari Golkar sejak tahun 1971. Kabarnya, Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (GUPPI) berada dibawah pimpinan Ramadi. Dari pemeriksaannya, Ramadi mengatakan bahwa Soemitro telah memberi angin kepada mahasiswa untuk terus melancarkan demonstrasi. Bersama seseorang yang bernama Jayusman, Ramadi mengaku ingin membantu Soemitro merombak pemerintahan dan membersihkan menteri-menteri, termasuk Ali Moertopo dan Sudjono Humardani.
Memang sikap lunak Soemitro terhadap aksi mahasiswa, keterlambatannya mencegah huru-hara di tanggal 15 Januari 1974, dan kabar hubungannya dengan Ramadi memunculkan sebuah tanda tanya besar. Benarkah Soemitro dengan bantuan kelompok Ramadi berambisi menjadi Presiden? Dari pemeriksaan Ramadi inilah banyak dikorek informasi yang menyudutkan  Soemitro. Dikatakan, Ramadi pernah berkata pada K.H. Sjarifuddin Mohammad Amin (ketua umum GUPPI), "Ini hari yang bakal menangis si gendut (maksudnya Soemitro-pen.)!". Kematian Ramadi, 61 tahun, yang tiba-tiba di RSPAD Gatot Soebroto semakin menambah misteri kasus Malari, mungkinkah Ramadi sengaja disingkirkan?
Pada 21 Desember 1974, Hariman divonis 6 tahun. Ia dianggap terbukti melakukan subversi. Meski tidak terbukti menjadi penggerak kerusuhan, menurut hakim, Hariman mestinya mafhum, sejak akhir 1973, Jakarta dilanda gelombang demonstrasi. Karena kelalaian Hariman, terjadilah pembakaran dan perusakan. Mengenai pembakaran dan perusakan itu, seperti dikutip dari Hariman dan Malari, pria kelahiran 1 Mei 1950 tersebut mengatakan, “Berbagai aksi pembakaran dan perusakan oleh massa itu sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya sudah mikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa.”
Adapula yang beranggapan adanya keterlibatan oposisi Jepang. Kerusuhan yang terjadi bertepatan dengan datangnya Perdana Menteri Jepang ke Indonesia menimbulkan kecurigaan. Mungkinkah ada keterlibatan para oposisi di Jepang dalam Peristiwa 15 Januari 1974 di Indonesia? Kabar yang beredar mengatakan bahwa rangkaian demonstrasi menghujat Jepang di Asia Tenggara sesungguhnya adalah hasil rekayasa dari pihak oposisi di Jepang. Tujuannya tak lain menjatuhkan Perdana Menteri Tanaka dan partainya yang sedang berkuasa. Oleh karena itu, rangkaian demonstrasi ini diatur agar waktunya bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Tanaka ke Asia Tenggara. Dana-dana dalam jumlah yang cukup besar masuk dari Jepang ke negara-negara yang dikunjungi Tanaka. Maka terjadilah aksi kerusuhan anti-Jepang, dimana produk-produk buatan Jepang dirusak dan dibakar.
Secara tersirat keterlibatan oposan Jepang dimuat dalam buku peristiwa 15 januari 1974 versi Pemerintah, dikatakan bahwa Peristiwa Malari muncul, salah-satunya, disebabkan oleh "adanya kekuatan asing yang tidak suka kepada kemajuan-kemajuan yang terdapat di Indonesia dan kekuatan asing ini selain merupakan sumber konsep, juga sebagai sumber dana yang tidak kecil " Meski demikian, belum ada penelitian khusus yang dapat membuktikan teori ini.
Malari menandai putusnya hubungan Orde Baru dengan kelompok penganut pemikiran politik “pluralis modern”. Kelompok ini-seperti yang ditulis David Bourchier dan Vedi R. Hadiz dalam Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia (2003)-meliputi intelektual kota yang terkait dengan PSI. Kaum pluralis memiliki visi Indonesia sebagai negara industri modern. Dalam menciptakan sistem politik, mereka memegang teguh asas demokrasi. Mereka ingin elite modern teknokrat yang memimpin negeri ini.
Namun, pemikiran kaum pluralis modern berbenturan dengan langkah Soeharto. Akibatnya, peluang membangkitkan kembali paham sosialisme sering buntu. Sebagai partai politik, PSI sudah lama mati. Melalui Keputusan Presiden Nomor 200 Tahun 1960 tanggal 15 Agustus, Soekarno membubarkan PSI dan Masyumi karena dicurigai terlibat PRRI atau Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Namun paham sosialis kerakyatan, buah pikir Sutan Sjahrir, tak pernah benar-benar terkubur.
Dalam buku Pengemban Misi Politik (1995), Soebadio menyatakan PSI merupakan suatu state of mind, keadaan pemikiran yang tidak dapat dideteksi. Jaringannya berlandaskan kesamaan ide, spiritual, bukan semata organisasi. Wartawan senior Rosihan Anwar, yang selama ini dianggap orang PSI lolos dari Malari karena dinyatakan “bersih” oleh Jenderal Soemitro, membenarkan hal tersebut. “PSI merupakan partai kader. Pendukung suatu paham tak pernah hilang.”
Menurut Rosihan, sejak PSI dibubarkan Soekarno, eks anggotanya masih berkomunikasi. Mereka bertukar pikiran tentang perkembangan politik mutakhir. “Banyak juga anak muda yang tertarik.” Almarhum ekonomi Sarbini pernah menyebutkan yang paling kuat dan tidak berubah di dalam PSI adalah semangat sosialisme, semangat membela rakyat, serta memperjuangkan keadilan dan pemerataan. Meski partai itu bubar, semangatnya tak pernah padam.
Pada awal Soeharto berkuasa, kelompok dan kekuatan sosial lama bermunculan. Ada kelompok berorientasi Islam yang dulu berkaitan sejarah dengan Masyumi. Ada kelompok lain yang dibentuk mahasiswa, misalnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Kelompok mahasiswa ini memiliki banyak persamaan dengan PSI dan berperan penting dalam proses politik Orde Baru.
Di kalangan militer ada dua kubu. William Liddle dalam bukunya, Partisipasi dan Partai Politik Indonesia pada Awal Orde Baru (1992), mengatakan ada kelompok tentara radikal dan Soeharto-sentris. Panglima Komando Daerah Militer Siliwangi Letnan Jenderal H.R. Dharsono termasuk militer progresif yang dikenal dekat dengan PSI. Ia digolongkan sebagai tentara radikal. Begitu pula Panglima Kodam XII Tanjung Pura Brigadir Jenderal A.J. Witono.
Di tim ekonomi ada Widjojo Nitisastro, Mohammad Sadli, Sarbini Sumawinata, dan Emil Salim. Widjojo dan Emil bukan orang PSI, tapi lantaran kesamaan pemikiran mereka dianggap simpatisan PSI. Tersebarnya orang PSI dan simpatisannya di era Soeharto dianggap peluang besar bagi PSI untuk come back. “Karena kesempatan kami terbuka,” ujar Rahman Tolleng.
Pada 25-31 Agustus 1966, berlangsung Seminar Angkatan Darat II di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Suwarto. Dia memberikan kesempatan sejumlah ekonom untuk menjadi staf pengajar. Salah satunya Mohammad Sadli, anggota tim penasihat ekonomi Soeharto. Sadli mengemukakan bahaya militerisme, perlu adanya kerja sama yang sederajat antara sipil dan militer, dan kebebasan pers. Gagasan tersebut ditolak. Gagal dengan kesetaraan sipil-militer, Sadli kerap menulis nota usulan kepada Soeharto untuk mengubah keadaan politik. Ia mengusulkan merehabilitasi PSI dan Masyumi. Usul itu tak berjawab. Alasannya? “Militer tidak perlu alasan. Bagi saya jelas: kita tidak bisa bekerja sama dengan orang ini,” ujar Sadli dalam wawancara dengan Tempo pada 1999.
Karena usaha untuk merehabilitasi PSI sudah tidak mungkin, muncul pemikiran untuk merintis gerakan yang tidak berdasarkan ideologi, tapi berlandaskan program. Gerakan ini dikenal sebagai independent group. Pemikiran ini sampai ke telinga Adam Malik, Menteri Presidium Urusan Politik dan Luar Negeri. Ia pun mengontak Adnan Buyung Nasution (Ketua Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), Yozar Anwar (Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Pusat), dan Marsillam Simandjuntak (Ketua KAMI Jakarta). Ajakan Bung Adam disambut baik. Sayang, ide ini tak berjalan mulus. Melalui beberapa pertemuan yang alot, Umar Kayam, Direktur Jenderal Radio & Televisi dan budayawan, akhirnya terpilih sebagai ketua. Tapi, setelah grup itu terbentuk, sejumlah tokoh menarik diri, termasuk Mashuri, Adnan Buyung, dan Adam Malik. Kayam mereka nilai tak independen. Adam Malik berkomentar, “Independent group sudah mati sebelum lahir.”
Meski dukungan kurang, independent group tetap jalan. Menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara 1968, Kayam menyampaikan sikap kritis grup itu kepada Soeharto. Independent group rupanya mengkhawatirkan sejumlah orang. Ketika Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia bertemu dengan Presiden Soeharto, Rahman Tolleng, Ketua Presidium KAMI Pusat, menyaksikan seseorang mengusulkan Soeharto membubarkan independent group. Alasannya: grup itu merupakan neo-PSI alias PSI baru. “Biarkan saja. Kalau tidak didukung rakyat juga nantinya mati. Ini kan demokrasi,” kata Soeharto ketika itu.
Aman? Keesokan harinya, di Jakarta dan sejumlah “markas” independent group, beredar pamflet gelap. Isinya: ajakan mengganyang kelompok independen. Tapi mereka bertahan. Beberapa nama kemudian masuk Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong. Sementara itu, di Bandung, muncul gerakan dwipartai. Gagasan yang dicetuskan: membatasi jumlah partai peserta pemilu. Soemarno dan Soelaiman Soemadi, tokoh intelektual PSI, menonjol dalam gagasan ini.
Gagasan dwipartai mendapat dukungan luas. Namun banyak tafsir berkembang di antara pendukungnya. Ide dasarnya sederhana, kelak hanya ada dua partai: yang satu pendukung pemerintah dan lainnya partai oposisi. Ide ini “mati” setelah Soeharto menolak dan memutuskan mengadakan pemilu. Sumbangan pemikiran intelektual PSI lainnya datang dari ekonom Sarbini Sumawinata. Pada 1966, ia berpendapat bahwa mempertahankan stabilitas politik merupakan syarat terciptanya pertumbuhan ekonomi. Dasar pemikiran tersebut selanjutnya menjadi acuan kerangka berpikir Orde Baru.
Sampai sekarang belum ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa Malari. Sejarah yang begitu gelap, banyak pendapat tentang dalang peristiwa ini namun tidak memiliki bukti yang otentik.
Dari peristiwa ini, terlahir seorang sosok aktivis mahasiswa yang menjadi simbol Malari hingga saat ini, Hariman Siregar. Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) itu bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya dituding menjadi otak pelaku kerusuhan tersebut. Hariman Siregar menolak jika disebut sebagai penyebab dalam kerusuhan tersebut. Hingga saat ini sebagian orang masih mempertanyakan siapa dalang di balik peristiwa kerusuhan tersebut. Mengingat setelah sempat ditahan dan dilakukan persidangan, Hariman Siregar dan kelompok Mahasiswa lainnya tidak terbukti dalam peristiwa kerusuhan itu. Hariman sendiri menyebut Malari sebagai puncak dari gerakan kritis terhadap konsep pembangunan yang dilakukan pemerintah Orde Baru saat itu.





DAFTAR PUSTAKA
·         Annonymous. “15 Januari 1974 : Peristiwa Malari Huru Hara Mahasiswa Tantang Orba”. 10 Agustus 2015. http://koranmakassaronline.com/v2/15-januari-1974-peristiwa-malari-huru-hara-mahasiswa-tantang-orba/#sthash.h17dc0ho.nzSD4TAo.dpbs
·         Annonymous. “Jejak Soeharto : Peristiwa Malari “The Shadow of an Unseen Hand””. 10 Agustus 2015. https://serbasejarah.wordpress.com/2011/12/21/jejak-soeharto-peristiwa-malarithe-shadow-of-an-unseen-hand/comment-page-1/#comment-22156
·         Herawati, Pahma. “PERISTIWA MALAPETAKA 15 JANUARI 1974 (MALARI)”. 10 Agustus 2015. http://wartasejarah.blogspot.com/2014/12/peristiwa-malapetaka-15-januari-1974.html
·         Aliansyah, Muhammad Agil. “Malari, perlawanan terhebat pertama terhadap Orde Baru”. 10 Agustus 2015. http://www.merdeka.com/peristiwa/malari-perlawanan-terhebat-pertama-terhadap-orde-baru-hariman-dan-malari-1.html
·         Aliansyah, Muhammad Agil. “Berbagai versi Malapetaka 15 Januari”. 10 Agustus 2015. http://www.merdeka.com/peristiwa/berbagai-versi-malapetaka-15-januari-hariman-macan-malari-2.html
·         Ali, Ausof. “15 Januari 1974, Sebuah Tragedi”. 10 Agustus 2015. http://www.kompasiana.com/ausofali/15-januari-1974-sebuah-tragedi_550d5b8a8133114322b1e422

·         Annonymous. “Hari Ini 41 Tahun yang Lalu Terjadi Peristiwa Malari”. 10 Agustus 2015. http://www.konfrontasi.com/content/ragam/hari-ini-41-tahun-yang-lalu-terjadi-peristiwa-malari#sthash.0FKJ4I2g.dpuf


Ini tugas yang sengaja di post biar ga ilang. tugas dari mata kuliah Sistem Politik Indonesia. Semoga bermanfaat ya^^

Introduce

Hallo, dengan Ria disini. saya salah satu mahasiswi smt 5 di salah satu PTN yang ada di Indonesia, lahir pertengahan tahun '95 ditengah keluarga yang luar biasa dengan satu kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Niatnya, blog ini akan share segala yang berhubungan sama kegiatan saya sbg mahasiswi atauoun perempuan biasa. Semoga blog ini bisa bermanfaat ya. Amin